Home / Dinkes Padang Bentuk Tim dalam Putuskan Mata Rantai Tuberculosis di Kota Padang

Berita & Artikel - Berita 2022

Dinkes Padang Bentuk Tim dalam Putuskan Mata Rantai Tuberculosis di Kota Padang

Padang, - Pemerintah Kota Padang melalu Dinas Kesehatan betul - betul serius dalam menanggulangi berbagai virus atau penyakit yang terjangkit kepada masyarakat, sehingga saat ini Dinas Kesehatan bentuk tim dalam memutuskan mata rantai penyakit tuberculosis (TBC). Mari kita bekerja sama dalam mengatasi penyakit TBC yang terjangkit kepada masyarakat kota padang dengan betul - betul, karena penyakit tersebut termasuk kedalam program kami yang harus di berantas hingga masyarakat sehat dan jauh dari penyakit.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Dr. Srikurnia Yati dalam sambutannya di Hotel Rangkayo Basa, saat kegiatan pertemuan advokasi dengan ketenagakerjaan dan BPJS Ketenagakerjaan dalam penanggulangan TBC di Kota Padang, Kamis (24/11/22).

Tuberculosis adalah suatu penyakit atau bakteri yang mudah menular dan berpotensi serius terutama mempengaruhi organ tubuh yaitu Paru - Paru.

Dr. Srikurnia mengatakan pada saat ini indonesia menjadi salah satu negara yang tinggi nomor 2 setelah negara India dalam kasus tuberculosis (TBC), dengan demikian untuk Daerah Kota Padang pada tahun sekarang kasus TBC terinfeksi masyarakatnya sebanyak 2821 orang.

"Banyak masyarakat yang acuh terhadap penularan penyakit TBC ini, dengan batuk dan bersin yang tidak beretika. Dengan kelakuan itu dibiarkan, maka semakin banyak masyarakat kita yang terjangkit penyakit," Tutur Kadis Kesehatan Kota Padang.

Beliau mengatakan juga bahwa kita pemerintah serta seluruh stakeholder terkait, mampu bekerja sama dalam menghimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dan kepada masyarakat yang terjangkit bakteri TBC jangan khawatir karena kami Dinkes telah memiliki tim dalam memberantas bakteri atau penyakit tersebut.

"Mari kita bekerja sama dalam mengatasi penyakit TBC yang telah terjangkit kepada masyarakat kota padang dengan betul - betul dan serius, karena penyakit tersebut termasuk ke dalam program kami yang harus di berantas hingga masyarakat sehat dan jauh dari penyakit," Tuturnya.

Ditambahkannya bahwa dalam penyembuhan pasien tersebut kita pihak kesehatan juga harus bekerja sama dengan pihak keluarga atau orang dalam pasien untuk berkoordinasi dalam memantau pasien tersebut hingga sembuh.

"Kita harus membuat penjaringan yang luas kepada pasien yang terkena penyakit TBC, karena kita butuh mendukung pasien untuk sehat dan jangan acuh terhadap penyakit itu," Tuturnya lagi.

Beliau berharap semoga kepada pasien yang terjangkit dalam penyakit tersebut mampu teratasi dari positif hingga terdeteksi negative dan tidak menularkan lagi penyakit tersebut ke lingkungannya.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh Stakeholder terkait yang diwakili dalam kegiatan sosialisasi penyakit atau bakteri tuberculosis dan bagaimana kesiapan dalam strategi penanggulangan penyakit tersebut.

Sementara itu Dr. Evawestari juga menjelaskan bahwa dalam kebijakan pendukungan program TBC terdapat dalam Perpres No. 67 Tahun 2021 tentang penanggulangan Tuberculosis, Permenkes No. 67 Tahun 2016 tentang penanggulangan Tuberculosis, SE Menkes No. 660 Tahun 2020 tentang kewajiban fasyankes dalam melakukan pencatatan dan pelaporan kasus tuberculosis, dan SE Dirjen P2P No. 936 tentang perubahan alur diagnosis dan pengobatan tuberculosis di Indonesia.

"Kegiatan Program kami ini telah banyak di dukung oleh peraturan yang telah dikeluarkan, dengan demikian kami mengajak bekerja sama dalam mengatasi permasalahan penyakit yang ada di Kota Padang pada saat ini," Jelas Koordinator P2PM saat memaparkan tentang TBC.

Dr. Evawestari menjelaskan juga pasien tuberculosis ini banyak dilaporkan terdapat dalam sekolah, pesantren, dan lapas. Sehingga kita harus memantau agar penularan itu tidak lagi berkembang, dan mengantisipasi menularnya ke tempat lingkungan kerja.

"Banyak pasien TBC ini mendapat laporan dari lingkungan yang tidak memiliki pentilasi yang kurang, atau ruangan yang tidak memiliki perputaran angin," Jelasnya.

Ditambahkannya juga bahwa banyaknya pasien yang gagal sembuh terhadap penyakit TBC itu dikarekan oleh pasien yang tidak menjalani pengobatan dengan betul, maka dari itu kita mengarahkan pasien tersebut untuk serius dalam pengobatannya.

"Penyakit tuberculosisi (TBC), ini terbagi atas 2 yang satu TBC biasa mampu di obati dalam pengobatan dan bisa sembuh dalam jangka waktu 14 hari, namun yang satunya lagi TBCRO yang telah terjangkit parah dan harus di tangani secara khusus dengan waktu pengobatan 9 bulan hingga 2 tahun lamanya," Jelasnya lagi.

Disisi lain Dr. Gentina juga menyampaikan untuk mengantisipasi penularan penyakit TBC tersebut kita harus menjalankan protokol kesehatan seperti yang telah disampaikan oleh pemerintah. Serta bagi pasien yang terjangkit segera melaporkan kepihak kesehatan sebagaimana harus di tindak lanjuti dalam penanganannya.

"Banyak cara kita untuk mengantisipasi penyakit atau bakteri yang akan menyerang tubuh kita, dan melaksaksanakan protokol kesehatan seperti yang telah di anjurkan, jika sakit laporkan kepada kami untuk mampu di obati dan di cegah penularannya," Pungkasnya.

Disampaikannya banyak masyarakat terkena penyakit TBC ini, terdapat dari usia 18 tahun kebawah terdapat 29 persen dan untuk anak balita 14.5 persen terdampak penyakit TBC tersebut.

"Banyak masyarakat kita terdampak akan penyakit TBC ini, baik dari anak balita hingga orang tua mampu terjangkit penyakit itu," Pungkasnya lagi.

Terlihat kegiatan tersebut berlangsung dengan baik, banyak dari OPD yang mendukung dalam menbantu untuk mengatasi penyakit tuberculosis ini.

Dr. Kiki pada acara tersebut juga menambahkan penjelasan mengenai tantangan dalam mengindari serta memberantasi penyakit tersebut agar tidak menyebar lebih luas lagi. (Diskominfo/Ham)

Apa perasaan anda terhadap konten ini...?

like

0

dislike

0

angry

0

sad

0