Home / Geliat Investasi dan Wisata di Kota Padang

Berita & Artikel - Artikel

Geliat Investasi dan Wisata di Kota Padang

Penulis :

Rudy Rinaldy

Profesi :

Kepala Dinas Komunikasi & Informatika Kota Padang

Tidak banyak yang mengetahui progres investasi di Kota Padang selama ini. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) dalam wilayah Kota Padang akhir-akhir  ini  menunjukkan perkembanganyang  cukup  signifikan.  Sampai  dengan  akhir  tahun  2017 yang lalu, nilai PMDN di Kota Padang mencapai sekitar Rp. 713 Milyar, naik hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan realisasi PMDN tahun 2016 sebesar sekitar Rp. 357 Milyar. Investasi tersebut mampu menyerap 11.376 orang tenaga kerja lokal dan 79 orang tenaga kerja asing.

Disektor PMA juga demikian. Realisasi PMA tahun 2017 sebesar sekitar $ 2,4 juta. Angka ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan realisasi PMA tahun 2016 yang lalu hanya sebesar $ 42.482 saja.  Realisasi  PMA  tersebut memang masih  sangat  kecil  tetapi  mampu  menyerap  7.292  orang tenaga kerja lokal dan 120 orang tenaga kerja asing.

Berdasarkan  data  yang ada, trendinvestasi  yang  paling  diminati  dalam  wilayah  Kota  Padang adalah sektor pariwisata (perhotelan, cafe/restoran dan wahana wisata), sektor kesehatan (Rumah Sakit  dan  Klinik),  dan  properti.  Whizz  Hotel,  Amaris  Hotel,  dan  Hotel  My  All,  adalah  contoh hotel-hotel baru yang bermunculan di Kota Padang, melengkapi beberapa hotel besar lainnya yang sudah lebih dahulu berdiri. Sudah ada juga beberapa investor baru yang akan membangun hotel bintang  tiga  keatas  yang  Izin  Prinsippemanfaatan  ruangnya  sudah  diterbitkan  oleh  Pemerintah Kota Padang.

Munculnya cafe-cafedan  restoran  berstandar  nasional  dan  internasional  yang  jumlahnya  cukup banyakikut memberikan warna khusus bagi perkembangan wisata di Kota Padang, apakah dengan melakukan  rehabilitasi  tanpa  merubah  bentuk  bangunan-bangunan  tua  di  kawasan  pondok,  atau cafe-cafe dan restoranyang sengaja dibangun baru yang tersebar dalam wilayah Kota Padang.Demikian  juga  dengan  munculnya  beberapa  Rumah  Sakit  dan  Klinik,  seperti  Padang  Medical Centre,  Rumah  Sakit  Naily,  dan  Rumah  Sakit  Hermina  (sedang  konstruksi),yang  semuanya diharapkan mampu menjawab demandkebutuhan sektor kesehatan bagi penduduk Kota Padang dan  wilayah  Sumatera  Barat  pada  umumnya. Sektor  properti  berupa  pembangunan  perumahan bersubsidi  dan  non  subsidi  juga  sedang  dalam trendyang  positif.

Pembangunan  perumahan tersebut  diharapkan  mampu berpartisipasi menutupi backlogperumahan  dalam  wilayah  Kota Padang yang mencapai hampir 100.000 rumah (data sekitar 8 tahun yang lalu).Geliat progres investasi tersebut ternyata juga paralel dengan geliat sektorwisata di Kota Padang. Trend positif terus terjadi yang ditandai dengan semakin tingginya kunjungan wisatawan nusantaradan manca negara ke Kota Padang. Kunjungan wisatawan nusantarake Kota Padang selama kurun waktu  5  tahun  terakhir  menunjukkan  angka  yang  sangat  impresif.  Pada  tahun  2013  jumlah kunjungan  wisatawan nusantarasebanyak  3.001.306  orang.  Kemudian  meningkat  menjadi
3.199.392 oarng (tahun 2014), 3.298.454 orang (tahun 2015), 3.632.820 orang (tahun 2016), dan pencapaian luar biasa di tahun 2017 sebanyak 4.368.375 orang wisatawan nusantara.

Demikian  juga  dengan  progres  kunjungan  wisatawan  asing.  Pada  tahun  2013  wisatawan  asing yang datang ke Kota Padang sebanyak 53.057 orang. Lalu meningkat menjadi 54.407 orang (tahun 2014), 57.318 orang (2015), 58.903 orang (2016) dan menjadi 67.286 orang pada tahun 2017 yang lalu. Walaupun masih belum mampu menembus angka 100.000 orang, namun trendpositif yang terus naik dari tahun ke tahun, memberikan signalbahwa penerapan kebijakan sektor pariwisata yang  dilakukan  oleh  Pemerintah  Kota  Padang  sudah  berada  pada trackyang  benar.  Dengan konsistensi  yang  tinggi,  bukan  tidak  mustahil  angka  100.000  kunjungan  wisatawan  asing  dapat ditembus dalam waktu 2 atau 3 tahun mendatang.Trendpositif  kunjungan  wisata  ke  Kota  Padang tersebut ternyata  berimplikasi  positif pula bagi Pendapatan Daerah, yang mendongkrak pendapatan Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan dan  Retribusi  Objek  Wisata.

Dibandingkan  dengan  tahun  2016  yang  lalu,  kenaikan  pendapatan Pajak Hotel pada tahun 2017 adalah sebesar sekitar 14,4%, kenaikan pendapatan Pajak Restoran sebesar  24,17%,  kenaikan  Pajak  Hiburan  dua  kali  lipat,  dan  kenaikan  Retribusi  Objek  Wisata sebesar sekitar 14,8%. Rata-rata kenaikan dari empat lapangan usaha tersebut di tahun 2017 jika dibandingkan  dengan  tahun  2016  adalah  rata-rata  sekitar  25,70%  (dari  sekitar  Rp.  51,1  Milyar menjadi  sekitar  Rp.  71,8  Milyar). Statistik  tersebut  diperkuat  pula  oleh  semakin  meningkatnya rata-rata lenght of stay tingkat hunian hotel di Padangdari waktu ke waktu.Pada tahun 2016 yang lalu lenght  of  staywisatawan  nusantara  1,7  hari  dan  wisatawan  mancanegara  3,14  hari.  Angka tersebut  meningkat  di  tahun  2017  menjadi  1,89  hari  (wisatawan  nusantara)  dan  4,21  hari (wisatawanmancanegara).Pencapaian impresif sektor investasi dan pariwisata tersebut relevan juga dengan hasil dari Value of  Local  Economics  Governance  2016yang  di  publish  oleh  KPOD  yang  menempatkan  indeks yang  cukup  tinggi  di  Kota  Padang  pada  atribut  Keamanan  danResolusi  Konflik,  Kapasitas  dan Integritas, serta Akses Lahan, meskipun secara nasional Kota Padang berada pada urutan 17 dari 32 Ibukota Provinsi se-Indonesia.Pencapaian yang membanggakan juga dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi Kota Padang dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi  Kota Padang tahun 2017 yang lalu dapat dipertahankan, bahkan sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2016, yaitu di angka 6,23% (berbanding 6,22%  pada  tahun  2016). Pertumbuhan  ini  jauh  diatas  pertumbuhan  ekonomi  rata-rata  nasional dan Provinsi Sumatera Barat.

Pertumbuhan ekonomi tersebut masih didominasi oleh 3 lapangan usaha,  yaitu  ;  Penyediaan  Akomodasi  dan  Makan,  Informasi  dan  Komunikasi,  serta  Jasa Pendidikan.Selain  dari  beberapa  faktor  pendukung  tumbuhnya  investasi  dan  berkembang  dengan  baiknya sektor  wisata,  keberadaan  Peraturan  DaerahNo.  11/2009  tentang  Pemberian  Insentif  dan Kemudahan  Berinvestasi  di  Kota  Padang,  turut  memberikan  dorongan  dan  rangsangan  bagi Pengusaha/Investor untuk menanamkan investasinya di Kota Padang. Peraturan Daerahtersebut kemudian  diikuti  oleh  terbitnya  Peraturan  Walikota  Padang  No.  10/2010  tentang  Prosedur Pemberian  Insentif  dan  Kemudahan Investasi,  serta  Peraturan  DaerahNo.  3/2012  tentang
Investasi. Semua regulasi tersebut tidak saja diharapkan mampu menumbuhkan minat investasi, lebih  dari  itu  adalah  memberikan  kepastian  hukum  dan  perlindungan  bagi  setiap  investasi  yang masuk ke Kota Padang.Dibidang perizinan, telah pula diterapkan perizinan berbasis onlinemelalui aplikasi Sapo Rancak yang telah digulirkan semenjak awal Mai 2018 yang lalu. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan para pengusaha melakukan proses perizinan berusaha, yang bisa diakses dimanapun dan kapanpun. Aplikasi tersebut masih dalam tahap evaluasi sampai satu atau dua bulan kedepan, sampai nanti akhirnya benar-benar dapat dimanfaatkan secara baik oleh semua yang membutuhkan.Kota  Padang  juga  akan  menerapkan  Mal  Pelayanan  Publik  (MPP)  yang  direncanakan  mulai beroperasi pada akhir bulan November atau awal bulan Desember tahun 2018 ini.

Persiapan kearah tersebut sedang dilakukan secara bertahap dan diharapkan semua dokumen perizinan dari semua Kementerian/Lembaga   Pusat   di   daerah   dapat   bergabung   di   MPP   Kota   Padang,   sehingga masyarakat akan dimudahkan dalam memperoleh dokumen perizinan pribadi dan berusaha yang diperlukannya.

    Rudy Rinaldy