Home / Performa Ekonomi Kota Padang Tahun 2020

Berita & Artikel - Artikel

Performa Ekonomi Kota Padang Tahun 2020

Performa Ekonomi Kota Padang Tahun 2020

Oleh :

Rudy Rinaldy

(Kepala Dinas Kominfo Kota Padang)

Yosi Suryani

(Dosen Politeknik Negeri Padang)

Tidak ada negara didunia ini yang tidak terdampak secara ekonomi akibat pandemi covid-19. Termasuk Indonesia, Provinsi Sumatera Barat, dan Kota Padang khususnya. Beberapa indikator menunjukkan dampak tersebut secara signifikan. Melemahnya governement expenditure akibat re-focusing anggaran turut mempengaruhi secara luas roda perekonomian Kota Padang.

Mengacu kepada data yang dirilis oleh BPS Kota Padang kondisi tahun 2020, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Menurut Lapangan Usaha di Kota Padang terkoreksi cukup besar dari sekitar Rp. 62,424 T (2019) menjadi Rp. 62,222 T (2020), atau turun sekitar Rp. 202 M (sekitar 0,32%). Padahal di tahun 2020 tersebut merupakan nilai PDRB Kota Padang tertinggi semenjak tahun 2016 yang lalu.

Pertumbuhan ekonomi Kota Padang tahun 2020 juga mengalami perlambatan cukup signifikan sebesar -1,86% jika dibandingkan dengan 5,65% (2019), meskipun perlambatan ini masih jauh dibawah rata-rata nasional dan Provinsi Sumatera Barat (menurut perkiraan sementara). Perlambatan ini masih tertolong oleh laju pertumbuhan sektor administrasi pemerintahan, pertanahan dan jaminan sosial wajib menurut Pertumbuhan Indeks Harga Implisit PDRB Kota Padang Menurut Lapangan Usaha sebesar 11,52% yang naik cukup besar jika dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar 5,06% (naik 6,46%).

Kontribusi sektor administrasi pemerintahan, pertanahan dan jaminan sosial wajib, dalam struktur PDRB Kota Padang berdasarkan Lapangan Usaha merupakan salah satu dari 9 sektor yang mengalami kenaikan cukup besar dari sekitar Rp. 4,192 T (2019) menjadi sekitar Rp. 4,586 T (2020) atau naik sekitar Rp. 394,2 Milyar (sekitar 9,4%). Hal ini menandakan bahwa transaksi jual beli banyak dipengaruhi oleh perilaku belanja pegawai tetap dari berbagai instansi, dimana pada waktu yang bersamaan daya beli masyarakat non pegawai tetap mengalami gangguan luar biasa.

Terdapat 8 sektor yang mengalami penurunan nilai berdasarkan data PDRB Kota Padang tahun 2020, yaitu ; sektor pertambangan dan penggalian, sektor pengadaan listrik dan gas, sektor konstruksi, sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, sektor transportasi dan pergudangan, sektor penyediaan akomodasi dan makan/minum, sektor jasa perusahaan, dan sektor jasa lainnya.

Sektor transportasi dan pergudangan merupakan sektor dengan penurunan terbesar, dari sekitar Rp. 10,712 T (2019) menjadi Rp. 9,743 T (2020) atau turun hampir Rp. 1 T tepatnya sebesar Rp. 968,93 M (sekitar 9,04%). Hal ini dapat dipahami karena adanya pemberlakuan PSBB di sejumlah daerah di tanah air, sehingga perjalanan menggunakan transportasi udara, laut dan darat sangat dibatasi. Hal ini juga yang kemudian menyebabkan banyak maskapai penerbangan dan perusahaan transportasi lainnya mengalami kerugian yang sangat besar.

Sektor yang juga mengalami penurunan signifikan adalah sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, dari Rp. 10,570 T (2019) menjadi Rp. 10,212 T (2020), atau turun mencapai sekitar Rp. 357,86 M (sekitar 3,38%). Pandemi covid-19 menyebabkan daya beli masyarakat turun yang menyebabkan terjadinya persoalan dibagian hulu yaitu banyak stok barang yang tidak ada pembelinya. Neraca perdagangan mengalami defisit. Demikian juga dengan reparasi mobil dan sepeda motor yang dengan sendirinya mengalami penurunan volume aktifitas akibat berkurangnya secara drastis volume perjalanan masyarakat.

Sektor lain yang terkena dampak signifikan adalah sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, mengalami penurunan dari Rp. 935,09 M (2019) menjadi Rp. 745,82 M (2020), atau turun sekitar Rp. 189,27 M (sekitar 20,24%). Tidak bisa dipungkiri bahwa sektor yang memayungi aktifitas pariwisata ini merupakan sektor yang juga paling terpuruk dengan prosentase penurunan terbesar. Banyak hotel dan restoran yang mengalami kerugian akibat tidak ada kunjungan sama sekali. Bahkan banyak diantaranya yang tutup dan tidak beroperasi lagi.

Dilain pihak terdapat beberapa sektor yang mengalami pertumbuhan signifikan dan makin berkibar. Diantaranya adalah sektor informasi dan komunikasi dari Rp. 4,608 T (2019) naik menjadi Rp. 5,112 T (2020), atau naik sebesar sekitar Rp. 503,77 M (sekitar 10,93%). Pembatasan kegiatan masyarakat yang dianjurkan harus di rumah saja, belajar daring anak-anak sekolah dan mahasiwa, work from home, virtual meeting, webinar, dan seminar secara online, merupakan kegiatan-kegiatan yang menyebabkan sektor ini mengalami kenaikan pesat di tahun 2020 jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Di tahun 2020 terjadi hal yang mengejutkan yaitu perubahan komposisi distribusi PDRB. Jika semula sektor transportasi dan pergudangan merupakan sektor dengan konstribusi terbesar di tahun 2019 (17,17% dari total PDRB), maka di tahun 2020 yang lalu justru sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, kembali menjadi sektor dengan kontribusi terbesar (16,41% dari total PDRB). Sementara itu sektor transportasi dan pergudangan di urutan kedua dengan konstribusi sebesar 15,66% dari total PDRB.

Namun secara umum distribusi nilai PDRB Kota Padang atas Dasar Harga Berlaku tahun 2020 masih didominasi oleh 5 sektor utama yaitu ; sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor (16,41%), sektor transportasi dan pergudangan (15,66%), sektor industri pengolahan (11,87%), sektor konstruksi (10,44%) dan sektor informasi dan komunikasi (8,22%). Ke 5 sektor ini menguasai 62,60% PDRB Kota Padang, sedangkan 12 sektor lainnya tersebar pada penguasaan sisanya yaitu 37,40%.

Kota Padang masih diuntungkan dengan begitu banyaknya geliat sektor UMKM dari berbagai lapangan usaha dan serapan tenaga kerja sektor informal, yang pada gilirannya mampu memberikan ‘suntikan kekuatan’ untuk tetap bisa bertahan walau pada level terendah sekalipun. Dominasi digital transaction dari sejumlah marketplace yang ada juga memberikan implikasi positif bagi kondisi yang tetap survive.

Program padang smart melalui supply wifi di seluruh kantor Pemerintah Kota Padang (termasuk kantor Camat, Lurah dan Puskesmas) yang bisa diakses masyrakat, ditambah program masjid digital dan pemasangan wifi gratis secara terbatas dibeberapa spot dalam wilayah Kota Padang, turut membantu terjadinya transaksi dagang secara digital. Banyak pula diantara kita yang memanfaatkan free wifi ini untuk menunjang usahanya yang semula secara konvensional beralih secara digital.

Semoga performa ekonomi Kota Padang kedepan akan lebih baik walau masih berkutat dengan masalah pandemi covid-19. Perlu inovasi dan improvisasi untuk mencari peluang-peluang baru guna mendatangkan new local government revenue, serta memberikan perhatian lebih kepada sektor-sektor yang secara statistik mempengaruhi PDRB Kota Padang. Selain orientasinya public servant, Pemerintah Kota juga tidak salah jika berbisnis dalam koridor yang benar untuk kemudian hasilnya dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan fisik dan non fisik.

-----*****-----

(terbit di Harian Padang Ekspres edisi Rabu, 17 Maret 2021)