Nawi Sang Veteran Perang, Menembus Tiga Zaman di Usia 104...

post

Nawi Sang Veteran Perang, Menembus Tiga Zaman di Usia 104 Tahun

PADANG — Di sebuah sudut Kota Padang, seorang lelaki tua duduk menatap lurus. Pandangan matanya masih relatif jernih—sejernih ingatannya menembus lorong waktu satu abad silam. Dialah Nawi. Pria kelahiran 12 Mei 1923 itu bukan sekadar saksi sejarah, melainkan jalinan sejarah itu sendiri.

Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, tatkala generasi muda sibuk merayakan kemerdekaan dalam gempitanya era digital, Nawi diam-diam menyimpan kisah panjang tentang bagaimana Republik ini diperjuangkan dengan peluh, darah, dan air mata.

Nawi tumbuh ketika nama "Indonesia" bahkan belum menggema sekuat sekarang. Kala itu, orang-orang hanya mengenal wilayah tempat tinggalnya sebagai “Padang Dalam Kota” dan “Padang Luar Kota” di bawah bayang-bayang penjajahan kolonial Belanda.

Memasuki tahun 1940, di usianya yang masih belasan tahun, panggil jiwa membawanya ke medan perang. Langkah kakinya menyusuri jalur perlawanan di Banda Bakali, Lubuk Alung, Rimbo Kaluang, Andaleh, hingga Seberang Padang. Di usianya yang masih sangat muda, Nawi dipercaya memimpin sekitar 300 pemuda sebagai Komandan Regu Pasukan Hizbullah wilayah Kapalo Koto—bergerak selangkah demi selangkah, beriringan namun terpisah dengan kelompok legendaris Harimau Kuranji.

Bagi Nawi muda dan pasukannya, perang bukanlah tentang megahnya persenjataan militer. Modal utama mereka hanyalah tekad baja yang membakar dada.

"Senjata kami waktu itu talang baranjuang (bambu runcing). Kami berjuang lima tahun sebelum merdeka. Belanda harus angkat kaki dari Indonesia, itu tekad bulat di hati kami," kenang Nawi, matanya menerawang.

Jikalau ada senjata modern seperti senapan Bren, rantai, atau granat di genggaman mereka, itu tak lain adalah buah nekat merebutnya langsung dari tangan musuh dalam pertempuran jarak dekat.

Aroma penderitaan kian menyengat saat pendudukan Jepang bermula pada 1942. Bagi Nawi, era ini adalah titik terkelam dalam ingatan perjoangannya.

"Zaman Jepang paling susah makan. Kerja diperas banyak-banyak, makan cuma sedikit," tutur Nawi lirih.

Setelah Jepang angkat kaki dan perang kemerdekaan melewati masa-masa genting hingga Belanda benar-benar hengkang di sekitar tahun 1950, badai nyatanya belum reda. Pergolakan daerah meletus pada akhir 1950-an. Dalam sebuah kecamuk konflik saudara pada tahun 1957, sebuah timah panas menembus paha Nawi.

Ajaibnya, peluru itu masih bersarang di dalam tubuhnya hingga hari ini—sebuah "suvenir" perang yang enggan ia keluarkan dari dagingnya sendiri.

"Waktu itu saya tertembak di paha. Dokter sudah menyarankan untuk operasi dikeluarkan, tapi saya tidak mau. Lagipula tidak terasa sakit lagi," ucapnya sembari tersenyum tipis.

Melewati rentang waktu 104 tahun berarti juga belajar berdamai dengan kehilangan. Nawi telah melepas pergi dua istri tercintanya dan lima dari delapan anaknya kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Namun, duka tak pernah mengikis kehangatan jiwanya.

Penerima tiga penghargaan Satyalancana di era Presiden Soeharto dan Megawati Soekarnoputri ini tetap bugar di usia seabad lebih. Rahasia panjang umurnya ternyata sangat sederhana dan menyentuh.

"Saya tidak ingin menyakiti orang lain, saya selalu ingin membantu kawan. Jiwa itu yang selalu saya tanamkan," ungkap veteran Golongan A ini.

Filsafat hidupnya teguh berakar pada budaya Minangkabau yang selalu dipegangnya rapat-rapat:

"Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Saciok bak ayam, sadanciang bak basi." (Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Seia sekata dalam kebersamaan).

Kini, bambu runcing telah berdebu dalam museum, dan dentum meriam telah lama reda. Bagi Sang Veteran, definisi perjuangan hari ini tak lagi menggunakan senjata fisik, melainkan bagaimana generasi penerus merawat persatuan dan saling mengulurkan tangan.

Di balik senyum tenang dan guratan keriput di wajahnya, Nawi seolah menitipkan pesan tanpa kata: Kemerdekaan ini tidak gratis—ia dibayar dengan darah, air mata, dan masa muda yang dikorbankan.

Tugas kita hari ini bukanlah mati demi bangsa, melainkan menjaga agar api yang diperjuangkan Nawi dan kawan-kawannya seabad lalu tak padam tergerus zaman.(Charlie / Muliadi)

~ uploader by Ju

Kirim Rating

`

Setup