PADANG - Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Perikanan dan Pangan menggelar Rapat Strategi Keberlanjutan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Petani Milenial Terdampak Bencana di Gedung Bagindo Aziz Chan Balai Kota Padang Aie Pacah pada 16/10/2026. Pertemuan ini difokuskan pada penguatan integrasi hasil pertanian lokal dengan rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.
Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan dari 41 KWT terdampak banjir, para petani milenial, serta koordinator wilayah dan koordinator kecamatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kota Padang. Selain itu, hadir sebagai narasumber pakar pertanian Prof. Musliar Kasim, Dr. Afrizal, serta Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan Dinas Perikanan dan Pangan Kota Padang Dessy.
Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan Dessy menjelaskan bahwa Pemko Padang sebelumnya telah menyalurkan bantuan dana Transfer ke Daerah (TKD) bagi 41 KWT terdampak bencana banjir guna memulihkan usaha kelompok. Melalui forum ini, pemerintah daerah berupaya mendorong kemandirian kelompok usaha tani tersebut agar terhubung langsung dengan penyedia dapur MBG.
“Tahun lalu kami sudah menyalurkan bantuan melalui dana TKD kepada 41 KWT yang terdampak banjir di Kota Padang. Sekarang kami ingin mendorong mereka agar bisa berkembang lebih jauh dengan menggandeng petani milenial dan menjalin kerja sama dengan dapur MBG. Harapannya KWT dan petani milenial ini tidak hanya menerima bantuan tetapi juga bisa terus tumbuh berinovasi dan mengembangkan usahanya. Dengan adanya kerja sama dengan dapur MBG hasil pertanian mereka bisa terserap dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” ungkap Dessy.
Dukungan senada disampaikan oleh para akademisi dan pakar pertanian. Prof. Musliar Kasim menilai KWT dan petani muda memiliki kapasitas besar untuk memenuhi pasokan pangan daerah jika didampingi dengan pola kemitraan yang tepat. "KWT dan petani milenial memiliki potensi besar untuk mengembangkan pertanian lokal. Dengan dukungan dan kerja sama yang tepat potensi ini dapat menjadi sumber penghasilan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak bencana," terangnya.
Sementara itu Dr. Afrizal menambahkan bahwa kepastian pasar melalui program MBG menjadi kunci utama agar produksi pertanian lokal terserap secara konstan. "Integrasi pertanian lokal dengan program MBG membuka peluang bagi KWT dan petani milenial untuk memperluas pemasaran hasil produksi. Kerja sama ini diharapkan dapat membantu hasil pertanian lokal terserap dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," pungkasnya.
(Mdn)
~ 📤 by Ju